Show simple item record

dc.contributor.authorTAMPUBOLON, JONAHA BONAFIDE
dc.date.accessioned2024-03-02T04:49:42Z
dc.date.available2024-03-02T04:49:42Z
dc.date.issued2024-03-02
dc.identifier.urihttps://repository.uhn.ac.id/handle/123456789/10186
dc.description.abstractPendahuluan: Kulit merupakan salah satu garis pertahanan terdepan dalam melindungi tubuh dari berbagai trauma dan cedera seperti luka bakar. Luka bakar merupakan kerusakan yang terjadi pada kulit atau jaringan tubuh yang dapat disebabkan oleh termal, radiasi, kimia dan listrik. Derajat luka bakar terbagi menjadi 4, berdasarkan kedalaman luka. Luka bakar derajat IIA ditandai dengan kulit memerah, melepuh dan menimbulkan bula. Penanganan luka bakar derajat IIA saat ini umumnya menggunakan obat topikal seperti silver sulfadiazine, povidone-iodine, MEBO (Moist Exposed Burn Ointment), bioplacenton. Efek samping dan harga yang mahal karena ketersediaan obat terbatas menyebabkan diperlukan pengobatan alternatif menggunakan bahan-bahan tradisional untuk mengobati luka bakar. Madu dan daun singkong merupakan bahan tradisional yang dapat digunakan sebagai alternatif pada pengobatan luka bakar derajat IIA. Tujuan: Membandingkan efektivitas madu hutan (Apis dorsata) konsentrasi 100% , krim ekstrak daun singkong (Manihot esculenta crantz) konsentrasi 75%, kontrol positif menggunakan silver sulfadiazine dan kontrol negatif tanpa pemberian perlakuan terhadap penyembuhan luka bakar derajat IIA pada tikus wistar jantan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode eksperimental murni dengan pengamatan post test only with control group design. Dengan membandingkan pengaruh madu hutan konsentrasi 100% dan krim ekstrak daun singkong konsentrasi 75%. Pemilihan sampel menggunakan purposive sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Tikus dibuat mengalami luka bakar dengan cara ditempelkan koin diameter 2 cm yang dipanaskan selama 3 meit. Panjang luka bakar diukur mulai dari hari pertama sampai hari ke 14 pemberian perlakuan. Hasil : Terdapat perbedaan rata-rata panjang luka bakar setelah 14 hari perlakuan. Madu hutan dan krim ekstrak daun singkong memiliki efektivitas terhadap penyembuhan luka bakar derajat IIA. Kelompok tikus yang diberikan madu memiliki rata rata panjang luka bakar yang paling kecil dibandingkan kelompok yang diberikan iii krim ekstrak daun singkong dan diikuti oleh kelompok kontrol positif yang diberikan silver sulfadiazine dan kelompok kontrol negatif tanpa perlakuan. Kesimpulan: Madu hutan memiliki efektivitas yang paling besar terhadap luka bakar derajat IIA, dibandingkan dengan daun singkong maupun kontrol positif.en_US
dc.subjectLuka Bakar derajat IIA,en_US
dc.subjectMadu Hutan,en_US
dc.subjectKrim Daun Singkong,en_US
dc.subjectSilver sulfadiazine,en_US
dc.subjectTikus wistar jantan.en_US
dc.titlePERBEDAAN EFEKTIVITAS MADU HUTAN (APIS DORSATA) DENGAN KRIM EKSTRAK DAUN SINGKONG (MANIHOT ESCULENTA CRANTZ) TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA BAKAR DERAJAT IIA PADA TIKUS WISTAR JANTANen_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record